Adat Bersendi Syarak: Fondasi Etika Lingkungan Melayu dalam Menghadapi Krisis Iklim Global
SIAK – Menjaga Alam, Menjemput Masa Depan: Kolaborasi Endemic, Siak Heritage, dan Perpus Trotoar Bedah Kosmologi Lingkungan Melayu SIAK – Apa jadinya jika pegiat lingkungan, penjaga sejarah, dan komunitas literasi duduk bersama Sebuah diskusi hangat bertajuk "Bicara Lingkungan dalam Perspektif Adat, Tradisi, dan Budaya" baru saja digelar, mempertemukan Endemic, Siak Heritage, dan Perpus Trotoar. Diskusi ini membedah filosofi mendalam masyarakat Melayu dalam memperlakukan alam—sebuah konsep yang ternyata jauh melampaui sekadar isu ekologi modern.
Filosofi Berlapis: Dari Ambal ke Rimba Diskusi dibuka dengan pembahasan menarik mengenai bagaimana masyarakat Melayu membagi ruang hidup mereka secara "berlapis", mulai dari rumah hingga ke hutan. Para narasumber sepakat bahwa lingkungan bagi orang Melayu bukanlah sekadar objek fisik, melainkan tatanan kehidupan yang mencerminkan nilai luhur.
- Rumah sebagai Inti: Bukan sekadar tempat berteduh, rumah adalah pusat
pendidikan nilai adat dan agama.
- Halaman Pekarangan: Menjadi ruang transisi sosial. Di sini, martabat
keluarga dipertaruhkan lewat kerapian halaman, sekaligus menjadi apotek
hidup melalui tanaman tradisional.
- Kebun (Ruang Produksi): Lapisan ini adalah simbol kerja keras dan
kemandirian ekonomi, tempat di mana pohon kelapa, karet, dan buah-buahan
menjadi jaminan ketahanan pangan keluarga.
- Hutan (Ruang Bersama): Sebagai lapisan terluar, hutan dianggap sebagai
penyangga kehidupan dan warisan sakral yang tidak boleh dieksploitasi
sembarangan.
Gotong Royong: Jantung Pengelolaan Lahan Salah satu poin yang memicu diskusi panjang adalah konsep Gotong Royong. Dalam perspektif Melayu, gotong royong bukan hanya soal membersihkan selokan, tetapi merupakan roh dalam mengelola kebun dan pekarangan. "Di kebun, kita melihat bagaimana masyarakat bekerja bersama saat membuka lahan hingga panen. Ini membuktikan bahwa semakin jauh kita melangkah keluar dari rumah, tanggung jawab kita bergeser dari kepentingan pribadi menuju kepentingan bersama dan kelestarian alam," ujar salah satu partisipan merujuk pada prinsip pengelolaan ruang Melayu.
Adat Sebagai Benteng Ekologi Kolaborasi ini juga menyoroti prinsip "Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah" yang menjadi fondasi hubungan manusia dengan alam. Hutan, misalnya, bukan sekadar sumber kayu, tetapi merupakan "amanah" yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Aturan adat yang melarang eksploitasi berlebihan menjadi bukti bahwa kearifan lokal telah lama mengenal konsep pembangunan berkelanjutan.
Simpulan yang Reflektif Diskusi yang diinisiasi oleh Endemic, Siak Heritage, dan Perpus Trotoar ini ditutup dengan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bentuk tanggung jawab antargenerasi. Masyarakat Melayu memandang manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang bebas merusak. Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi generasi muda untuk kembali menengok kearifan lokal dalam menghadapi tantangan krisis iklim global saat ini. Karena pada akhirnya, keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai adat adalah kunci kesejahteraan bersama.